24 Jam Dibayar Sekali: Kritik untuk Yayasan yang Salah Menghitung Gaji Guru
Ada praktik yang diam-diam terjadi di sebagian sekolah atau yayasan—dan justru karena diam itulah ia terasa wajar. Padahal jika ditelusuri secara logis dan etis, praktik ini sangat bermasalah.
Guru mengajar 24 jam per minggu, tetapi dibayar seolah-olah 24 jam itu hanya terjadi sekali dalam sebulan. Jika 1 jam dihargai Rp30.000, maka guru hanya menerima Rp720.000 per bulan—bukan Rp2.880.000.
Ini bukan sekadar ketidakadilan, tetapi kesalahan logika yang serius.
Kesalahan Perhitungan yang Sistematis
Sekolah atau yayasan menetapkan beban kerja mingguan, tetapi mengabaikan bahwa aktivitas tersebut terjadi setiap minggu. Ini berarti ada tiga minggu kerja guru yang “hilang” dari perhitungan.
- Menetapkan 24 jam sebagai beban mingguan
- Tidak mengalikan dengan jumlah minggu
- Membayar seolah itu total bulanan
Ini bukan efisiensi, melainkan penghilangan fakta kerja nyata.
Asumsi Bermasalah dari Yayasan
Praktik ini biasanya berdiri di atas asumsi tersembunyi:
- Guru akan tetap menerima karena keterbatasan pilihan
- Status honorer dianggap bisa ditawar
- Penghematan lebih penting dari keadilan
Asumsi-asumsi ini perlu dipertanyakan secara serius.
Kontradiksi Moral dalam Dunia Pendidikan
Sekolah adalah tempat menanamkan nilai kejujuran dan keadilan. Namun praktik ini justru menunjukkan sebaliknya.
Mengajarkan keadilan di kelas, tetapi mengabaikannya dalam sistem kerja.
Ini bukan hanya masalah administrasi, tetapi juga masalah integritas lembaga.
Argumen Yayasan dan Kelemahannya
Beberapa alasan yang sering digunakan:
- Keterbatasan anggaran
- Kebiasaan lama
- Takut tidak mampu membayar penuh
Namun keterbatasan dana tidak boleh mengubah logika dasar perhitungan. Jika anggaran terbatas, maka yang diubah adalah skema kerja—bukan cara menghitungnya.
Dampak Jangka Panjang
- Motivasi guru menurun
- Profesi guru semakin tidak dihargai
- Kualitas pendidikan menurun
- Integritas sekolah dipertanyakan
Kesimpulan: Saatnya Kembali ke Logika dan Keadilan
Jika 24 jam adalah beban kerja per minggu, maka harus dihitung sebagai aktivitas berulang dalam satu bulan.
Mengabaikan hal ini berarti menghapus sebagian besar kerja guru secara sistematis.
Solusinya sederhana: hitung kerja sesuai kenyataan.

0Comments